rss

Labels

About Me

Foto saya
Ialah organisai Intra kampus IAIN SU yang bergerak dalam bidang jurnalistik, LPM (Lembaga Pers Kampus) sebagai wadah tempat para Mahasiswa/i IAIN SU menyalurkan kreasi,inspirasi dan apresiasi yang gemar, tertarik dan berbakat dalam bidang Jurnalistik, Tulisan, photografi, sastra dll.yang tertuang dalam bentuk Tabloid yang setiap caturwulan sekali di terbitkan, didirikan pada Tahun 1993 Sekretariat : kampus II IAIN SU. Gedung AULA Lantai I

Kamis, 03 Juni 2010

Mengapa mesti di tempat parkir..?

Salam sobat muda..!
Malam ini saya akan mencoba menuliskan kembali sebuah berita panas yang saya baca tadi pagi di markasnya LPM Dinamika IAIN-SU.
Berita ini berjudul sama dengan judul tulisan saya ini, diterbitkan hari Sabtu, 27 maret 2010. Yang menggambarkan sebuah kesamaan sifat, antara mall, hotel, serta taman bermain kebanyakan. Ini dia pembahasannya.

__________________________

Masjid, merupakan bangunan suci dan juga merupakan rumah ibadah, artinya tempat untuk beribadah. Ibadah itu banyak macamnya, yang penting semua yang memiliki hubungan antara seorang hamba dan Tuhannya, itu disebut ibadah. Namun lebih spesifikasinya, ibadah dibagi menjadi 2 ;ibadah wajib dan sunnah.

Kejujuran seseorang, tingkah laku, serta perkataan juga dapat digambarkan melalui ibadah. Ketika prilakunya jauh dari yang diharapkan, bisa diartikan ibadahnya juga kurang. Sama juga jika perkataan dan tingkah lakunya banyak yang menyalahi, bisa juga diartikan ibadahnya kurang atau salah memaknai. Itu sebabnya, ibadah sangat dibuthkan. Sebab, jika semua orang rajin beribadah dan benar beribadah, kemakmuran serat ketertiban akan cepat kita dapatkan di Negara kita ini.

Tak lelah-lelahnya saya mengatakan, Masjid merupakan tempat ibadah. Tampat ibadahnya ummat islam, tempat ibadahnya ummat terbesar di Indonesia. Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim. Kegiatan - kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur'an sering dilaksanakan di Masjid. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.

Begiu besarnya peranan masjid bagi ummat islam, yang berdampak besar bagi perkembangan zaman.
Namun yang sangat disayangkan, mengapa sebuah keseragaman dapat dengan mudah kita dapatkan di Kota Medan ini. Dan saya rasa bukan hanya di kota Medan saja, bahkan di kota lain juga pasti mengalami masalah ini. Masalahnya adalah, keseragaman itu terdapat pada peletakan tempat ibadah di mall, hotel, dan tempat hiburan lainnya.

Sebagai contoh saja, letak masjid di palladium mall saja terletak dilantai paling atas, paling sudut, dan paling susah dijangkau. Dan yang lebih parahnya lagi terletak di pojok lahan parkir. Bukan itu saja, di Medan Plaza juga terjadi sedemikian rupa, masjid terletak di pojok gedung dengan ukuran yang sangat tidak cocok dikatakan rumah ibadah/ mushalla. Anda tahu dimana letakknya..? Letaknya disamping kamar mandi. Kemudian, ketika saya mengikuti sebuah event marching band di perumahan Citra Garden Medan, saya juga mendapati mushallanya di bagian belakang, dengan sajadah yang sudah kusam runyam, serta beberapa barang bekas yang tertumpuk rapi disetiap sudutnya. Bukankah tempat-tempat yang saya sebut diatas, tempat yang berkelas..?

Bukannya tidak bersyukur akan keadaan itu. Namun yang menjadi pengganjal hati saya, mengapa semua pihak yang terlibat sampai hati meletakkan rumah ibadah, yang begitu penting, di lahan parkir, atau di bawah mesin AC yang beruara kasar mengganggu ketenangan orang yang sedang beribadah, bahkan di samping toilet umum yang bau dan kotor..? atau kalau melihat pendapat subjekti saya, apa mungkin karena tidak menguntungkan pihak tertentu, masjid/mushalla kurang dilirik..? Naudzu billah.

Harus Tegas
Sobat muda..! Ini merupakan masalah besar ummat zaman sekarang. Masalah yang sudah menjadi kewajiban kita mengentaskan serta menanganinya. Kalau bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah, namun bagaimana caranya..?

Menurut berita yang saya baca tadi pagi, perlu adanya ketegasan dari pemerintah setempat untuk hal semacam ini. Kalau bisa, dibuat aturan-aturan baru bagi pihak mall, swalayan, hotel, atau tempat hiburan lainnya. Jangan hanya biaya pajak saja yang diurus, kalau bisa masalah akhirat juga harus diperhatikan. Saya rasa, pemerintah kita, khususnya di Kota Medan ini sangat bijak mengambil keputusan. Dan inilah harapan terbesar kita.

Selanjutnya, bukan tujuan mengadu domba…saya heran kepada pihak muslim yang ikutan nimbrung memajukan usaha-usaha diatas. Dia seorang muslim, namun hak-hak sahabat seimannya diabaikan begitu saja. Atau mungkin, mereka sudah berusaha mengupayakan yang terbaik namun belum tercipta hingga sekarang, semoga saja demikian.

Menurut berita juga, dampak negative ini ternya akan terus berlanjut kalau kita tidak sama-sama merubah 2 hal terbesar dalam diri kita. 2 hal yang kalau kita ubah sama-sama kemungkinan besar dapat mengubah kenyataan pahit ini.

Tidak sadar kalau kita dihina
Penyakit yang pertama adalah kita tidak sadar kita sedang dihina, ini menurut waspada, 27 maret 2010. Pendapat boleh berbeda, namun pendapat bersama harus diutamakan. Saya sadar, sebagian kita pasti ada juga yang sudah merasa puas akan keadaan itu. Namun saran saya, apakah pendapat kita itu tidak keliru, dan kalau bisa diteliti ulang..?

Merasa pelayan ini sudah maksimal
Sama seperti yang diatas, ini juga salah satu masalah. Merasa pelayanan ini sudah maksimal, merupakan perndapat yang sangat salah. Kalau dilihat dari sisi sejarah saja, ini sudah membuktikan, bahwa ini adalah penghinaan terbesar. Dan tidak patut dikatakan semua ini maksimal. Paling itdak begitu.

Nah sobat muda, hidup merupakan pilihan. Pilihan yang akan ditentukan kebenarannya di akhirat kelak. Saya mohon saran dari anda semua, apa solusi masalah ummat yang satu ini. Syukron..! (ozan)

Menulis Buku itu Mudah..!


Salam dahsyat sobat, Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabaraakatuh..!

Alhamdulillah, malam ini merupakan malam yang paling indah. Sebab, keluhan yang tadi pagi menjadi pengganjal hati terjawab sudah.
Pagi tadi, satu tulisan saya yang berjudul Apakah mungkin saya bisa membuat buku mendapat respon positif dari teman-teman sesame penulis. Bahkan, yang paling membuat saya gembira, komentar mereka semua sejalan dengan hati. Artinya, semua komentar dapat saya terima dengan ikhlas.

Sekedar flashback, tadi pagi saya berbagi masalah, atau curhat kepada teman-teman . satu masalah yang saya sendiri tidak mampu menuliskan alasan, mengapa saya bisa begini.

Saya utarakan sebuah pertanyaan, APAKAH SAYA BISA MEMBUAT SEBUAH BUKU..? pertanyaan ini muncul, ketika saya mulai berpikir. Apakah tidak lebih baik saya menulis dulu secara rutin, sehingga lebih pandai menyusun kata demi kata, sehingga nantinya gampang menuliskan sebuah buku, atau langsung saja menulis sebuah buku setelah mempelajari masalah yang akan dituliskan.

Sekali lagi, Alhamdulillah. Jawaban demi jawaban datang tiap jamnya. Terkira ada 15 komentar yang sangat luar biasa dari teman-teman. TERIMA KASIH TEMAN…!

Berikut adalah beberapa komentar serta jawaban langsung dari teman-teman yang memberikan masukan kepada saya. Dengan tujuan berbagi, jika nantinya pertanyaan ini terulang kembali ke salah satu teman pembaca, semoga beberapa jawaban ini dapat membantu menyelesaikannya.

Saran pertama datang dari Fuad Itachi Accs, seorang sahabat yang baru saja saya kenal ;
“Jangan nunggu jadi penulis,baru mau nulis..
Kalo nunggu hebat,kapan hebatnya Zan?
Tulislah dari sekarang,insyaallah Fauzan bisa untuk membuat sebuah buku! d^_^b “


Selanjutnya dari Qosim Nursheha Dzulhadi, seorang ustadz yang luar biasa tangguh ;
“U can if u think u can! [Q] “

Selanjutnya dari Ahmad Fuadi Dua, penulis novel 5 Menara yang fenomenal bagi saya ;
“hmmm saya coba menulis konsisten setiap hari 1/2-1 halaman saja. jadinya dalam setahun dapat 365 halaman. itu sudah jadi sebuah novel. jadi prinsip yg saya praktikkan adalah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi BUKU. silakan dicoba:) Semua orang mungkin menulis buku. man jadda wajada”

Kemudian dari Cak Arif, seorang yang sering memberikan komentar di tulisan sahabat-sahabatku ;
" ia hanya berkomentar, tulis saja dulu " Sebuah nasehat bagus...,seperti saya pengen blajar naek speda., apakah saya harus saya tuntun dulu spedanya...sambil lari, atau saya blajar keseimbangan dulu...,ato saya pelajari dulu komponen spedanya...,kalo saya naiki sekarang kalo jatuh gimana...,Aaaah gak jadi dech beli spedanya ^_^”

Kemudian dari Hernowo Hasim, penulis buku mengikat makna update, yang bukunya belum selesai-selesai aku baca hinga hari ini;
“Tidak ada yang tidak mungkin jika kita punya KEMAUAN-KUAT. Menurut penyair Jerman, Heinrich Heine, "Hanya kemauan yang menjadikan manusia itu hebat atau pecundang." Salam.”

Kemudian dari Adee Si-Sulung Sembul, sahabat yang baru saya kenal tadi siang ;
“Tulis aj dlu . Hah .komen.a sm jgak am kwn akhi yg dlu2 y?”

Selanjutnya dari Siti Putri SakiNah, sahabat se alumni saya, juga seorang yang dahsyat ;
“Klo ane pnya pndapat sih, tulis sedikit demi sedikit..
Ketika pikiran sudah buntu dan blm mendapatkan inspirasi baru, istirahat dan jgn dpksakan menulis..
Krna sesuatu yg dlakukan dgn kterpaksaan, hasilnya tdk akan baik..
Klu perlu, cari t4 khusus utk Qm menulis yg tenang dan tdk mengganggu knsentrasimu..
Udah itu ja.. Hehehe... “


Selanjutnya datang dari Muhammad Nur, teman yang selalu menasehatiku ;
“apa yang sering saya dapatkan dari nasehat para penulis, Ialah kekonsistenan juga kemauan untuk berkarya adalah inti dari pada cita-cita itu sendiri. Kemampuan namun tanpa dilandasi kekonsistenan adalah bohong, juga kekonsistenan namun tidak ada dasar itu jg sama saja bohong. Nah, jangan kita menjadi generasi instan yang maunya serba instan. ... Lihat SelengkapnyaMarilah kita mulai dari hal yang kecil, seperti apa yang dilakukan oleh akh A.Fuadi. ia mencicil dari hal-hal yang sederhana dan dari pengalaman pribadi beliau yang dirasakan selama di Ma'had. Nah, kalau nt mau tuliskan saja pengalaman yang kira-kira nt anggap mampu untuk disebarkan kepada yang lainnya zan. Pakai metode AMBAK kalau memang perlu, saya juga lagi menyelami metode tersebut tuh. selamat berkarya sobat......!!!!”

Kemudian dari Bayu Insani Sani, kakak yang sangat baik hati, tergambar dari cerpen-cerpennya;
“Dik, segala sesuatunya perlu proses. Jadi untuk menjadi seorang penulis,prosesnya ya banyak2 menulis dik. usia saya malah jauh lebih tua dari adik, tapi saya malah jatuh cinta pada dunia kepenulisan ini, malah skarang2 ini, tapi saya merasa, tak ada kata terlambat, selagi saya tetap berusaha. semua perlu proses, adik masih banyak kesempatan, maka ... Lihat Selengkapnyamulailah memproses apa yang menjadi cita2 mu. semangatlah, dan bersabarlah. tak mudah untuk menjadi kupu-kupu yang cantik, semua melalui proses seperti buruknya ulat dan kepompong. hayo dikkkkkk.....semangat! istiqomah yah......”

Selanjutnya dari Radinal Mukhtar Harahap, Inspiratorku, aku bangga akan semangatnya..;
“rahasia yang berasal dari Irving Wallace. Gunakan khayalanmu setiap hari. Menulis bukan hanya sebuah seni tapi juga profesi. Sementara ilham, merupakan sebuah unsur yang sangat besar. Menulis buku merupakan profesi. Kau perlu persiapkan diri untuk profesi ini dengan melatihnya [menulis buku harian, jurnal, surat, fragmen] dan dengan mempelajari karya-karya pengarang yang kau kagumi, untuk mempelajari cara mereka menciptakan karakter, menyisipkan konflik, menggerakkan sebuah cerita.

Itulah tuturnya. Beliau kemudian melanjutkan Kemudian kau harus menulis tidak hanya ketika semangat menggerakkamu, tapi setiap hari. Jika ada hari-hari yang buruk, kau bisa membuang apa yang telah kau tulis, tapi menulislah setiap hari, berpura-pura bahwa kau menerima gaji, berpura-pura bahwa kau harus menyerahkan sesuatu atau dipecat, tapi tetap terus menerus bekerja untuk dirimu sendiri dan dengan usahamu sendiri.

Dan diakhir kata-kata menakjubkan Irving Wallace tersebut, ia menceritakan pertemuannya dengan novelis Jerome Weidman seraya berkata, Weidman menasehatiku dengan cara mengalahkan takutku. Pikirkan tentang menulis satu halaman, hanya satu halaman, setiap hari. Di akhir 365 hari, di akhir tahun, kamu mempunyai 365 halaman. Dan tahukah kamu apa yang kamu punya? kamu mempunyai sebuah buku lengkap!".. Semoga Bermanfaat”


Kemudian dari Haqqy Luthfita, sahabat baruku ;
“sudah bisa mengambil sikap kan(?)
L S (ana belum bisa berkata banyak...];P)
A E
N M
J A...
U N
T G
K A
A T ya....!!
N!!!!!!!!!!!!!!!!!”


Selanjutnya dari Bambang Trim, juga seorang penulis, yang sangat menginspirasiku ;
“Terdorong untuk menulis sebuah buku... ehm... sebaiknya bukan semata melihat para penulis buku seperti 'orang sukses'; lebih baik jika memang 'ada yang harus ditulis'. Ada berarti bermakna untuk ditulis buat orang lain. Maka menulislah... terus saja menulis... mulai dari menulis.. . tak ada ukuran soal menulis buku atau bukan buku. Menulis buku ... Lihat Selengkapnyamemerlukan nafas panjang seperti marathon; jadi engkau perlu berlatih dulu menulis dengan nafas pendek, seperti artikel, feature, ataupun makalah. Terima kasih.”

Sobat, ada banyak komentar yang saya dapatkan hari ini. Sungguh, semuanya sangat berarti bagi saya. Akan saya ingat kejadian ini sepanjang hidup saya.

Seperti tertulis diatas, ini hanyalah untuk berbagi…semoga bermanfaat bagi teman-teman, terkhusus bagi yang sedang bingung seperti bingung saya tadi pagi. Selamat mencoba..!

Hari Buku Nasional yang Terlupakan

Diterbitkan Oleh Harian Analisa Tanggal 22 Mei
Oleh: Nurul Fauziah


Bulan Mei identik dengan bulan yang banyak menorehkan kejadian penting. Bahkan hampir tiap hari di dalam bulan tersebut selalu saja ada peringatan hari yang menasional konteksnya.

Buku adalah pengusung peradaban.
Tanpa buku, sejarah menjadi su
nyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan
dan pikiran lumpuh dan spekulasi mandeg. -Barbara Tuchman-

Mulai dari hari pendidikan, hari buruh, hari kebangkitan nasional, tragedy Trisakti dan sebagainya, namun ada satu hari yang menasional yang perayaannya tidak seheboh peringatan hari-hari lain, yakni peringatan hari buku nasional yang jatuh setiap tanggal 17 Mei, saya tidak mengerti kenapa hari yang satu ini bisa terlupa, apakah karena buku tidak lebih penting dari desakan kebutuhan para buruh dan ujung tombak kebangkitan bangsa? Saya pikir kesemuanya adalah penting hanya saja ada porsi-porsi yang tepat di dalamnya agar semua bisa diterima dan dijalankan dengan baik. Termasuk peringatan Hari Buku Nasional 2010.

Di awal pembuka tulisan ini seorang Barbara Tuchman membuat makna buku versi dirinya sendiri, ia bilang bahwa buku adalah pengusung peradaban, dan itu ada benarnya bukulah dokumentasi penting yang mampu menyimpan peradaban selama yang kita mau dan mempelajarinya kapanpun dimanapun. Tanpa buku juga, sejarah menjadi sunyi, apalagi yang tersisa dan tertinggal dari jejak sejarah jika tidak merekamnya pada kumpulan tulisan dan dijadikan buku untuk dibaca generasi berikutnya? tanpa buku pula sastra menjadi bisu, jika sastra bisu, ya sastra tinggal sastra saja tidak ada wujud nyata berupa buku agar bisa bertahan lama dan memiliki sebentuk kesan di hati peminatnya, sastra itu hidup karena ada pembuat dan penikmatnya, sekali lagi karena sastra bicara soal rasa. Dan terakhir kata Barbara Turchman, tanpa buku ilmu pengetahuan, pikiran dan spekulasi mandeg. Jika saja Aristoteles dan kawan-kawan tidak menuliskan pemikirannya di dalam buku sebagai hasil dari buah pikir mereka, mungkin saja apa yang diprediksi Barbara akan terjadi yakni kemandegan berpikir, ilmu pengetahuan mati suri. Artinya jika tidak ada yang mencatat buah pikir mereka, maka tidak ada juga yang membacanya dan menjadikannya pro kontra dengan pemikiran mereka itulah yang membuat kemandegan berpikir.

Lalu persoalannya adalah ada apa dengan buku sampai dibuat hari khusus untuk buku dan mengapa harus buku? Mbak Izzatul Jannah dalam bukunya yang berjudul "Remaja Gila Baca", menjawab pertanyaan tersebut, mengapa buku? karena:

1.Buku itu Abadi

Tentu dengan catatan buku itu tidak dimusnahkan, maka buku itu abadi, termasuk penulisnya. Walaupun sang maestro meninggal dunia, namun dengan buku, hasil dari pemikiran, perenungannya, maka dia menjadi hidup selamanya.

Sejarah, sastra, peradaban, pemikiran semuanya akan abadi jika dirangkum dalam konsep redaksi nyata berbentuk buku.

2. Buku bisa dicerna pelan-pelan = menganalisa

Karena memang buku bentuk yang simpel dan mudah dibawa kemana-mana, bisa dibuka dan dibaca kapanpu kita mau. Ketika berjumpa dengan persoalan pelik yang dituliskan sang penulis dan membutuhkan analisa—sebuah proses penyelidikan, penguraian, penjabaran, memecah persoalan, memecahkan masalah dalam bagian-bagian dengan metode yang konsisten untuk mencapai pengertian, maka kita pun bisa menganalisanya tanpa harus mengumpulkan naskahnya karena sudah terkumpul rapi dalam bentuk buku, malah bisa jadi dari sebuah buku lalu dianalisa akan bisa melahirkan buku-buku lainnya sebagai hasil dari analisa.

3. Buku Mengasah Imajinasi

The Wizard Boy alias Harry Potter tokoh rekaan yang dibuat oleh JK. Rowling dalam novel yang berjudul sama dengan tokoh utamanya sampai sekarang masih menggelitik sisi-sisi imajinasi saya, begitu berkesan, buku itu membawa saya ke dunia sihir sebenarnya.

Shakti Gawain mengatakan bahwa imajinasi kita pada saat membaca adalah kemampuan menciptakan gagasan / gambaran mental dalam pikiran. Dengan berimajinasi dalam konteks positif memang cukup efektif untuk mengembangkan pikiran beda halnya dengan televise yang sama sekali tidak memberi kesempatan pada otak untuk berpikir karena gambaran mental sudah disajikan dalam bentuk gambar bergerak, tidak ada proses berpikir disana sehingga membuat kita malas berpikir.

4. Poin ke empat yang menjelaskan pertanyaan kenapa buku?, karena buku yang baik itu menggerakkan pikiran. Dalam banyak penelitian lainnya dikatakan bahwa membaca dapat memperlambat datangnya pikun.

Kata Sukono, seorang pakar dalam masalah lansia, sebelum memasuki tahap lansia seseorang harus memiliki pola hidup yang sehat dan atasi dengan banyak melakukan senam crossing, banyak baca, mengisi teka teki silang, dan aktif berorganisasi social.

Sekali lagi yakinlah dengan apa yang dikatakan Mas Andrea Harefa bahwa masa depan suatu bangsa tergantung berapa banyak buku yang dibaca oleh bangsa itu dalam sehari, dan berapa banyak karya yang dihasilkan dari setiap buku yang dibaca oleh bangsa tersebut. Apakah bangsa kita termasuk di dalamnya?

Sejarah Hari Buku dan Ekspresi Dinamika 2010

Sebenarnya hari buku telah lebih dahulu diperingati tapi untuk skala internasional yakni Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap tanggal 23 April, tanggal tersebut merupakan tanggal wafatnya penulis William Shakespeare and Miguel de Cervantes yaitu pada tahun 1616. Tanggal 23 April juga sebagai tanggal lahir William Shakespeare pada tahun 1564. UNESCO menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Buku Sedunia sebagai bentuk penghormatan bagi kedua tokoh tersebut yang dikategorikan sebagai penulis dunia yang berjasa dibidangnya.

Sedangkan sejarah penetapan hari buku di Indonesia diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 17 Mei 1995 sekaligus ditetapkannya bulan Mei sebagai Bulan Buku Nasional.

Jarang ada yang menyambut momen tersebut. Peringatan itu tenggelam, kalah pamor oleh, misalnya, jadwal sidang perceraian pasangan selebriti. Maka dari itu, kami dari Lembaga Pers Mahasiswa Dinamika sebagai salah satu organisasi intrakampus sekaligus sebagai wadah aspirasi mahasiswa IAIN SU mempunyai gebrakan dalam menyambut HARBUKNAS 2010 dengan menyelenggarakan berbagai lomba yang pendaftarannya dibuka mulai dari tanggal 3-15 Mei 2010. Diantara item yang diperlombakan terkait dunia literasi yakni dunia baca tulis adalah Lomba menulis cerpen, lomba menulis artikel dan terakhir Pemilihan Duta Baca Tulis IAIN SU 2010. Khusus Pemilihan Duta Baca Tulis ini adalah item pemilihan yang baru pertama kali diselenggarakan dan cukup diminati para mahasiswa, mahasiswa cukup antusias terhadap event ini.

Event yang akan dijadikan event tahunan ini cukup melibatkan banyak pihak selain pihak rektorat yang sangat mendukung. Selain itu Acara ini juga didukung oleh pihak-pihak yang berkecimpung di dunia baca tulis seperti eLBeTe—Lembaga Baca Tulis yang dipromotori Ali Murthadha, Forum Lingkar Pena Sumatera Utara dan beberapa penerbit yang ada di kota Medan juga turut mendukung penuh acara yang digawangi oleh kru magang LPM Dinamika.

Gedebuk atau Gerakan Sedekah Buku juga menjadi salahsatu program acara yang turut memeriahkan HARBUKNAS 2010. Para mahasiswa IAIN SU serta para dosen diminta untuk menyumbangkan minimal satu buku yang bermanfaat yang nantinya buku-buku tersebut akan disumbangkan ke taman-taman bacaan yang ada di kota Medan. Program ini adalah bentuk kepedulian dari kita untuk kita terhadap masyarakat yang memang haus akan dunia baca tulis dan semoga dengan gerakan sedekah buku ini turut menggerakkan pihak lain untuk lebih peduli dengan perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di kota Medan dengan begitu budaya baca tulis akan tersebar dan bisa mendarah daging karena seperti yang dikatakan Om Aristoteles, kita adalah apa yg kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan melainkan sebuah kebiasaan.

Program Gedebuk ini sedang berjalan dan kami akan terus membuka kesempatan bagi teman-teman yang ingin menyumbangkan bukunya sampai pada tanggal 19 Mei 2010. Buku-buku tersebut dapat diantar langsung ke sekretariat Dinamika di Kampus II IAIN SU jalan Willem Iskandar atau bisa juga menghubungi kesekretariatan Dinamika untuk menjemput buku ke rumah Anda. Anda bisa menghubungi ke saudari Lita di nomor hp 087868810148.

Acara akan dibuka pada tanggal 19 Mei 2010 dari pukul 09.00 pagi sampai dengan selesai, bagi masyarakat di luar kampus juga bisa turut berpartisipasi karena panitia mendatangkan sejumlah pengusaha baik dari kalangan mahasiswa yang berpastisipasi dalam bazaar dan menjual barang-barang berupa makanan dan kerajinan tangan dan juga beberapa pengusaha dari luar. Pada hari yang sama juga akan diselenggarakan bedah buku yang disponsori tunggal oleh elBeTe serta dihadiri oleh peserta duta baca tulis. Pukul 13.00, pemilihan duta baca tulis akan beraksi dengan menampilkan kemampuan mereka dalam mengkampanyekan dunia baca tulis. Jadi jangan sampai ketinggalan ya!.

Ekspresi Dinamika 2010 juga mengadakan Seminar Nasional yang bertajuk Menikmati Buku Membangun Literasi pada tanggal 20 Mei 2010 dimulai pukul 09.00 pagi sampai dengan selesai. Acara ini dihadiri oleh pembicara yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia baca tulis seperti Ali Murtadha, pembicara sekaligus direktur eLBeTe serta redaktur Analisa yang akan membicarakan Menikmati Buku, Membangun Literasi, Winarti Ransih, novelis kota Medan yang bulan Maret lalu baru saja meluncurkan novel keduanya yang akan membawa judul Semangat Membaca dan Menulis serta Kepala Baperasda yang akan membicarakan, Membangkitkan kembali perbukuan di SUMUT lewat kebijakan pemerintah.

Keseluruhan acara ini akan ditutup dengan acara nonton bareng dan itu gratis.

Penutup

Hari Buku Nasional memang harus sudah mulai beranjak dari sekadar hiruk pikuk yang seremonial sifatnya, menjadi gerakan yang menawarkan perubahan-perubahan substansial. Belajar dari masa lalu, menjadi arif di masa kini, dan optimis menapaki masa depan. Selamat Hari Buku Nasional!